Pemilu Presiden 2014: Perang Bintang Seri Ketiga

Ditulis pada 28 December 2012 pukul 18:17 WIB

Oleh Rajab Ritonga

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) baru akan berlangsung tahun 2014, namun sejumlah nama bakal calon presiden sudah muncul di ruang publik baik secara terang-terangan, maupun malu-malu kucing. Tim Sukses bakal calon juga sudah beraktifitas, menggarap popularitas jagoannya dengan beriklan di televisi, dan menghadirkan baliho raksasa di berbagai tempat strategis untuk mengenalkan sang bakal calon agar pada saatnya nanti aksetablitiasnya tinggi menjulang saat pilpres. Pegiat survei juga tidak kalah sigap, mereka bekerja mengukur tingkat popularitas bakal calon dengan segala model dan metodenya.

Dari sejumlah nama bakal calon yang digadang-digadang, terdapat veteran pilpres 2004, dan 2009, di samping nama-nama baru yang akan ikut meramaikan pemilihan umum presiden dan wakil presiden 2014 nanti. Bahkan Lembaga Survei Indonesia (LSI) sudah merilis 18 dari 24 nama yang menurut mereka (setelah menanyai 223 responden) lulus kualitas uji personil untuk menjadi bakal calon presiden.

Pola pertarungan di Pilpres 2014 tampaknya tidak akan bergeser dari dua pilpres sebelumnya, yakni perebutan suara antara calon sipil di satu pihak dengan calon yang berlatar belakang militer di lain pihak. Tentu saja tidak terhindarkan varian perebutan suara antarsipil dengan sipil dan antarcalon pensiunan jenderal. Meskipun pemilu presiden bukan pertarungan antara kaum sipil dan militer, namun latar belakang calon masih menjadi salah satu kriteria bagi pemilih sebelum memutuskan pilihannya.

Dari enam Presiden RI 1945-2014 yang berlatar belakang sipil berjumlah empat orang yakni Soekarno, BJ Habibie, Abdrurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri, sedangkan dua lagi berlatar belakang militer: Jenderal Besar TNI (Purn) Soeharto, dan Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono. Namun meski hanya dua, masa berkuasa keduanya jauh lebih lama dibanding empat presiden sipil. Total waktu berkuasa kedua jenderal itu 42 tahun (hingga 2014) sedang empat presiden berlakar belakang sipil hanya berkuasa 27 tahun.

Sejumlah nama kalangan sipil yang digadang-gadang baik melalui survei ataupun bukan untuk menjadi bakal calon presiden adalah Mahfud MD, Jusuf Kalla, Dahlan Iskan, Sri Mulyani Indrawati, Hidayat Nur Wahid, Megawati Soekarnoputri, Hatta Rajasa. Selain itu muncul juga nama-nama Kristiani Herawati Yudhoyono, Aburizal Bakri, Anies Baswedan, dan Anas Urbaningrum. Pendatang baru, seperti Joko Widodo, dan Rhoma Irama juga meramaikan bursa bakal calon. Selain Jusuf Kalla dan Megawati yang merupakan veteran pilpres 2004, 2009, semua nama-nama kalangan sipil lainnya adalah nama-nama baru.

Dari kalangan militer yang disebut-sebut akan kembali mencalonkan diri adalah mantan Menhankam/Pangab Jenderal TNI (Purn) Wiranto, dan mantan Pangkostrad Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto. Keduanya, sama seperti Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri adalah veteran dua pemilu sebelumnya. Pendatang baru yang sudah menyatakan niatnya untuk mengikuti pilpres adalah mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto. Mantan Panglima TNI yang lain, Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto, juga disebut-sebut pada saatnya nanti akan ikut meramaikan bursa pencalonan.

Satu jenderal aktif, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo yang masih menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat, namun akan pensiun setahun sebelum pilpres, santer disebut akan tampil di medan laga pilpres. Jenderal Angkatan Laut, mantan Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI (Purn) Slamet Subijanto, dulu sempat digadang-gadang akan ikut pilpres, namun belakangan namanya hilang begitu saja. Dengan demikian, para purnawirawan perwira tinggi yang akan bertarung di pilres nanti sebagian besar berasal dari Angkatan Darat yang memang sudah mengenal dunia politik melalui doktrin Dwi Fungsi ABRI di masa lalu.

Bila kelima jenderal betul bertarung pada pilpres 2014, maka ini adalah “perang bintang seri ketiga” antarpurnawirawan yang akan berupaya menggantikan rekan se almamater di Akademi Militer (dulu Akademi Angkatan Bersenjata RI/Akabri), Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono yang sudah dua kali menjabat presiden, dan karena itu sesuai konsitusi tidak bisa lagi ikut bertarung dalam pemilu presiden 2014. “Kursi panas” yang ditinggalkan Jenderal Yudhoyono akan diperebutkan para purnawirawan dan calon dari kalangan sipil yang biasanya diperkuat purnawirawan (sebagai calon wakil presiden), sebagaimana terjadi dalam pilpres 2004, dan 2009.

Dalam “perang bintang” di dua pilpres sebelumnya, purnawirawan jenderal bertarung, head to head. Tahun 2004 tiga jenderal saling berhadapan: Wiranto (dengan cawapres Salahuddin Wahid), Jenderal Agum Gumelar (yang menjadi wacapres untuk Hamzah Haz), dan Susilo Bambang Yudhoyono yang menggandeng Jusuf Kalla sebagai cawapres. Pada pilpres Presiden 2009, Susilo Bambang Yudhoyono kembali bertarung melawan Wiranto yang “turun peringkat” menjadi cawapres (dengan capres Jusuf Kalla), dan Prabowo Subianto yang menjadi cawapresnya Megawati Soekarnoputri. Dari dua periode pertarungan antarjenderal itu, Susilo Bambang Yudhoyono tidak terkalahkan. Begitu juga Megawati, kalah untuk keduakalinya.

 

Berlangsung Seru

Calon presiden dengan latar belakang militer menjadi salah satu pilihan rakyat karena sebagai ksatria bangsa, para perwira sudah terbiasa dengan kehidupan disiplin yang mengedepankan ketegasan dalam bersikap. Sikap tegas, berani, jujur, bertanggung jawab, dan setia, merupakan menu sehari-hari dalam kehidupan prajurit. Sifat-sifat seperti itu diperlukan dalam memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia menghadapi tantangan yang multikompleks. Tentu saja ada sejumlah syarat lainnya, yang salah satunya adalah populer di mata rakyat banyak.

Pilpres 2014 diperkirakan berlangsung seru, sebab Wiranto dan Prabowo Subianto akan mendapat lawan tangguh si pendatang baru, Jenderal Purnawirawan Endriartono Sutarto yang sudah terus terang menyampaikan niatnya menjadi presiden. Tiga jenderal ini tampaknya akan menjadi magnit dalam pilpres nanti, sebab kualitas ketiganya seimbang, dan karir mereka selalu berkejaran sejak menjadi perwira hingga purnawira. Dua jenderal lainnya, Djoko Suyanto, dan Pramono Edhie Wibowo masih belum dapat dipastikan apakah betul-betul ikut bertarung. Kalaupun ikut, kemungkinan hanya satu orang, atau kedua-duanya menjadi satu kesatuan, sebagai cappres/wacapres dari kubu Yudhoyono.

Endriartono Sutarto adalah lulusan Akabri 1971, lebih yunior dari Wiranto yang lulus tahun 1968, tetapi lebih senior dari Prabowo Subianto yang lulus tahun 1974. Jabatan puncak di TNI, antara Endriartono dan Wiranto setara, yakni sama-sama pernah menjadi Kasad dan Panglima TNI/ABRI. Dalam hal ini Prabowo sama seperti Jenderal Yudhoyono, tidak pernah menjadi Kasad, dan Panglima TNI. Pangkatnya juga tidak sampai bintang empat.

Endriartono selepas dinas militer tidak pernah menjadi menteri, juga Prabowo, sedangkan Wiranto pernah menjadi menteri koordinator politik dan keamanan, sedangkan Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto pernah menjadi Kepala Staf TNI-AU sebelum menjadi Panglima TNI, dan setelah purnawira menjadi menkopolhukam. Bila Wiranto dan Prabowo sering direpotkan dengan isu menyangkut pelanggaran HAM (yang belum dibuktikan benar-tidaknya), maka Endriartono ataupun Djoko Suyanto tidak mengalaminya.

Beban sejarah yang dipanggul Wiranto dan Prabowo tampaknya bisa menjadi salah satu faktor menyulit untuk meraih suara dalam pilpres nanti selain harus bersaing dengan  calon-calon sipil yang sudah malang melintang di dunia politik seperti Jusuf Kalla, Megawati, atau para pendatang baru seperti Mahfud MD, Dahlan Iskan, Joko Widodo atau penyanyi dangdut Rhoma Irama yang juga ingin jadi presiden.(*)

 

*Penulis adalah Pengamat militer, alumni PPSA XVIII Lemhannas RI